Blogger Indonesia

Kamis, 27 Oktober 2016

“Gara-gara Facebook” Saya Jadi NursE

Sahabat super apakah pernah kebayang, bagaimana ya rasanya sudah menjadi pengguna Facebook dari tahun 2004 sampai sekarang 2016 ?
Saya sendiri baru memakai Facebook sekitar tahun 2008, sudah hampir 9 tahun dan kayaknya tahun itu lagi booming banget di Indonesia. Saya ngerasa gokil juga social media yang satu ini haha.

Betapa tidak, sejak saya melek dengan sosial media facebook seolah jiwa wirausahawan sebagai NursE (Nurse Entrepreneurs) terbangkitkan. Memang sebenarnya dikampus saya pernah dibekali belajar kewirausahaan ketika masih kuliah di program S1 Keperawatan persis di semester 6 tahun 2003, juga sudah lulus dari mata kuliah itu, nilai yang saya perolehpun tak tanggung-tanggung dapat nilai A pula hehhe. Hanya saja ketika itu untuk mau berwirausaha, spirit dan chemistry belum muncul kepermukaan hehhe.

Namun seiring berjalan waktu, ternyata semakin asyik dan semakin banyak teman (networking) hingga suatu ketika akun facebook saya part 1 @firman tel tidak bisa menampung lagi alias tidak bisa menerima permintaan pertemanan karena sudah memenuhi ambang batas maksimal 5.000 teman sesuai ketentuan fb. Dari keadaan demikian saya jadi terpikir koq semakin laris yach, kayaknya bagus juga nih sambil berbisnis berwirausaha melalui fb ini, hitung-hitung membangkitkan ilmu wirausaha saat kuliah dulu, biar dicoba diaplikasikan. Eh ternyata jadi benaran, saya langsung aksi memulai menjual produk-produk yang dibutuhkan dalam dunia kesehatan dan keperawatan termasuk menjual buku-buku keperawatan. Dan hasilnya sungguh menakjubkan, saya merasakan bagaimana facebook bisa membantu saya memberikan income pemasukan serta meningkatkan jumlah penjualan usaha yang saya jalankan yang hingga kini bisa mengantar saya sejak 2013 silam mulai merintis usaha di bawah naungan Grup Harazaki Pt yang bergerak dibidang property online.

Selain menambah income dan peningkatan jumlah penjualan, manfaat secara sosial juga patut saya syukuri. Mengapa ? Karena hanya dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini facebook sungguh menjadi media silahturahmi sosial, telah membantu saya bisa bertemu dan mempertemukan 50.000 (lima puluh ribu) orang teman sejawat senusantara melalui sosmed fb grup super (suara perawat). Begitu juga saya bisa bertemu dengan para likers (25.000 lebih) liker di page fb super.


Bagaimana bisa ? Ya Bisa lah ..

Kini Grup SUPER telah menjadi Komunitas Perawat terbesar social media (sosmed) di nusantara , dan bagi saya ini sesuatu pengalaman serta anugerah yang terindah. Terimakasih facebook.

Demikian sekilas cerita saya & facebook, membangkitkan jiwa saya untuk menjadi NursE (Nurse Entrepreneurs) atau perawat wirausahawan.

Jadi rekan-rekan NursE (Nurse Entrepreneurs) baik yang sudah atau baru mau memulai usaha/bisnis (offline maupun online), tidak ada salahnya anda memulai dari Facebook. Karena facebook merupakan Media yang paling Luar Biasa untuk memarketingkan bisnis/usaha anda.

Demikian share saya kali ini semoga bermanfaat khususnya para sahabat perawat wirausahawan. Komentar dan saran bisa tulis di kolom komentar. 


Salam SUPER


Sahabat Super memiliki produk atau jasa untuk dijual atau dipasarkan, tapi bingung caranya ?

Silahkan ikuti kelas MFM (Gratis..!)


Overview dan Goal Training pada Mentoring Facebook Marketing (MFM) 4 NursE diantaranya:
1. Belajar Mencari Market (target; pelanggan/klien/pasien)
2. Belajar Kasus Study
3. Praktek Membuat Iklan Facebook



Agar sahabat super bisa mendapatkan info update dan menarik lainnya, silahkan bisa gabung ke sini sorot & klik (warna hijau ) ---> group fb Kelompok Belajar Super perawat wirausahawan yang kita istilahkan NursE (Nurse Entrepreneurs).  

read more

Minggu, 07 Agustus 2016

Uji Kompetensi (UKOM) Perawat Harus Bisa Mengukur Skill dan Attitude.

Saya mencermati sejak akhir bulan Juli hingga kini telah masuk bulan Agustus 2016 ini sepertinya salah satu topik yang trend & terus hangat dibicarakan khususnya di media sosial perawat adalah ukom keperawatan.

Yap..ini tentunya menguak kepermukaan tidak terlepas dari sorotan berbagai media terhadap aksi demonstrasi (unjuk rasa) yang dilakukan oleh teman-teman Aliansi Peduli Perawat Indonesia Timur (APPIT) yang menuntut peninjauan ulang ujian kompetensi keperawatan. Yang disuarakan tidak tanggung-tanggung, transparansi uang ukom bahkan menuntut agar ukom dihapuskan !
Tentu ini sah-sah saja ditengah-tengah kehidupan demokrasi negeri ini.

Menyuarakan agar uji kompetensi dihapus, bagi saya  sudah lewat masanya, kini sudah bukan barang baru lagi. Memang, dulu diberbagai forum nasional baik yang diselenggarakan pemerintah maupun organisasi keperawatan, mungkin saya termasuk orang pertama yang selalu protes keras (kontra pendapat) terkait sistem penerapan pelaksanaan ukom yang digadang-gadang ketika itu, yang menurut saya kurang tepat cara pelaksanaannya. Tapi, itu masih tahun 2012, jauh sebelum di sahkan Undang-Undang Keperawatan yang didalammnya memuat unsur uji kompetensi perawat ini.
(kalau kagak percaya..silahkan coba cari tahu sendiri aja di google dengan kata kunci pencarian: firman telaumbanua + uji kompetensi perawat,  sepertinya masih bisa ditemukan bekas-bekas suara saya atau protes saya bagai mana seharusnya uji kompetensi dilaksanakan).

Terakhir kalinya saya suarakan ukom perawat ini yaitu 2 (dua) bulan sebelum di sahkannya RUU Keperawatan sebagai Undang-undang. Ketika itu pada acara Lokakarya Standard Setting Uji Kompetensi Ners Indonesia UKNI yang diselenggarakan HPEQ DIKTI bulan Juli 2014 di Ciputra Hotel Jakarta. Undangan di lokakarya ketika itu dari segenap pihak dan pemangku kepentingan/stakeholders, diantaranya  MTKI, AIPNI, PPNI, HPEQ DIKTI, para pakar narasumber & PT Keperawatan se Indonesia serta beberapa undangan lainnya.
Waktu itu saya ambil moment bersuara dengan harapan bisa menjadi tambahan acuan/koreksi Rancangan UU Keperawatan yang telah diusulkan. Ketika itu kita menyarankan supaya jangan hanya knowledge saja di uji, tapi harus bisa mengukur skill dan attitude. Selain itu bila uji kompetensi tetap dipertahankan maka teknis pelaksanaan ukom perawat ini harus dipertegas bahwa dilaksanakan sebelum lulus oleh perguruan tinggi keperawatan (exit examination), uji kompetensi berbarengan dengan ujian di perguruan tingginya, sehingga kalau dinyatakan lulus berarti uji kompetensinya juga lulus.

Ket. Foto: Penanda tanganan berita acara hasil Lokakarya Standard Setting Uji Kompetensi Nasional Indonesia (UKNI). (Made Kariasa,mewakili HPEQ DIKTI/Fasilitator, Harif Fadilah,mewakili PPNI, Firman Telaumbanua,mewakili PT dan 2 orang lagi Perguruan Tinggi lainnya).

Lalu sekarang, bagaimana ?

Pelaksanaan Ukom saat ini memang harus kita akui bahwa masih perlu ditata secara lebih baik lagi yang berpihak pada semua lapisan kepentingan termasuk pada peserta ukom dalam hal ini perawat/calon perawat. Namun dalam menatanya, tentunya perlu kita melakukan penyesuaian-penyesuaian termasuk acuan dan dasar hukumnya. Sekarang ini telah berlaku UU Keperawatan dan telah lahirnya beberapa peraturan pemerintah terkait ukom ini, seperti permenristek dikti nomor 12 tahun 2016 dll. Ini artinya acuan Undang-undangnya sudah bergeser, acuan UU seperti dulu (zamanya saya protes) sebagian sudah tidak bisa dijadikan acuan lagi sekarang. Inilah makanya saya bilang diatas, teriak hapus ukom sudah lewat masanya.

Bagi saya terkait ukom ini, komentar saya adalah masing-masing kita perlu melakukan sebuah refleksi mendasar yang harus kita jawab didalam hati masing-masing.

Bagaimana dengan sistem ukom saat ini, apakah sudah mampu menggaransi PERAWAT KOMPETEN ?
Menjadi kompeten ádalah dambaan setiap perawat. Tapi kompeten menurut siapa & dan bagaimana ?

Sudah samakah pengertian kita terkait perawat yang KOMPETEN ?
Kalau tidak sama, dimanakah letak perbedaanya?

**
Menurut hemat saya secara pribadi, pro-kontra ukom selama ini masih terjadi disebabkan karena beberapa hal, diantaranya termasuk perbedaan pandangan dan alat ukur "kompetensi" itu sendiri :

Versi kompeten menurut Lembaga Pendidikan Keperawatan
= bagaimana mahasiswa lulus diterima di tempat kerja (bila diterima, maka dianggap "diakui"/KOMPETEN).
Lembaga Pendidikan menyiapkan mahasiswa agar kelak dinyatakan lulus sudah memiliki "Kompetensi Lulusan" --> "Kompetensi Kerja"
Mewujudkan hal itu, pihak lembaga pendidikan melakukan dengan segala upaya membekali mahasiswa  baik secara hard skill maupun soft skill (termasuk penentuan porsi dalam muatan kurikulum; dominan soft skil). Lembaga pendidikan percaya pada taksonomi pendidikan (bloom) dimana tujuan pendidikan harus mampu membekali peserta didik ke tiga ranah/domain meliputi : kognitif domain (pengetahuan), affectif domain (sikap), pshychomotor domaian (keterampilan).

Taksonomi Bloom (1956):
Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor/Keterampilan)

Versi kompeten menurut Lembaga Pengembangan Uji Kompetensi (LPUK)
= bagaimana peserta ukom menjawab soal-soal ukom.
(bila perawat menjawab soal dengan benar (memenuhi standar minimal), maka dianggap  "diakui"/KOMPETEN)
Kecenderungan LPUK masih fokus hardskill saja (domain pengetahun); menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.

Refleksi akhir:
Bisakah perbedaan pandangan terkait kompetensi diatas disatupadukan menjadi sempurna ?
Menurut saya sich BISA , caranya alat mengukur kompetensi harus SAMA..hehhe

Jangan Hanya Knowledge, UKOM Perawat Harus Bisa Mengukur Skill dan Attitude.


Salam Super


read more

Senin, 02 Mei 2016

BAPAK PRESIDEN RI MOHON JANGAN LUPAKAN PERAWAT..!

Mungkin tidak berlebihan bila mengatakan bahwa bapak presiden RI terkesan kurang memperhatikan bahkan melupakan profesi perawat. Saya menyebut demikian berdasarkan hasil pencermatan saya sebagai salah seorang followers/likers pada akun medsos facebook presiden Jokowi.
Hingga kini, hampir setiap kiriman status yang beliau posting terus saya ikuti. Dari sekian banyaknya tulisan/postingan beliau, ada salah satu hal yang membuat saya masih menunggu hingga kini adalah postingan yang terkait “perawat atau keperawatan”. Wajar saja saya sangat penasaran postingan beliau terkait perawat karena salah satu profesi yang saya geluti adalah dunia pendidikan keperawatan.

Begitu sangat besarnya penasaran ini, saya mencoba menelusuri postingan beliau mulai dari zaman terdahulu hingga postingan hari ini (02/05), namun masih belum melihat atau menemukan postingan terkait perawat, satu kata “perawat” pun tak ada (kalau masih belum percaya, silahkan bisa dicoba sendiri aja deh langsung masuk di Akun Resmi Presiden Republik Indonesia https://www.facebook.com/Jokowi/ . Setelah masuk akaun, lalu coba ketik kata “perawat” di kotak pencarian, pasti muncul kalimat “Maaf, kami tidak dapat menemukan hasil apa pun untuk pencarian ini”).
Yang membuat saya  terkesan dan semakin penasaran adalah ketika saya mencoba search (mencari) kelompok masyarakat/profesi lainnya seperti POLRI, TNI, guru, petani, nelayan, buruh dan bahkan pedagang kaki lima. Begitu dimasukkan kata “buruh” atau “pedagang kaki lima” misalnya, maka postingan terkait profesi/kelompok tersebut pasti ada.
Dari hal tersebut, saya menjadi bertanya-tanya "mengapa ya kata perawat susah ditemukan", Mungkinkah perawat tidak menarik perhatian beliau ? Atau bapak presiden RI bahkan sudah lupa pada perawat ? Mudah-mudahan tidak.


Semoga bapak presiden RI selalu sehat dan memperhatikan perawat negeri ini. Amin


***
Perawat adalah tulang punggung rumah sakit dan puskesmas. 
Tanpa perawat, pelayanan kesehatan lumpuh.



Berikut ini ratusan poster aspirasi perawat buat pak Presiden dan pihak terkait yang disuarakan lewat grup FB Suara Perawat.

Atau lewat Youtube bisa klik disini https://www.youtube.com/watch?v=5EHr5PadRmI&feature=youtu.be

























































































read more